Lidya Nathania Raih Juara Pertama Kompetisi “Nursing Speech Contest” Syncos UNISA Yogyakarta

06 Januari 2024  |  oleh Admin
Lidya Nathania Raih Juara Pertama Kompetisi “Nursing Speech Contest” Syncos UNISA Yogyakarta

Pembawaannya supel, penuh semangat dan komunikatif.  Ia adalah Lidya Nathania mahasisiwi program sarjana keperawatan STIKES Bethesda YAKKUM Yogyakarta.  Baru-baru ini  tepatnya  awal Januari 2024,  Lidya Nathania  berhasil meraih prestasi membanggakan yang turut mengharumkan nama almamater.  Ia dinobatkan sebagai juara pertama  kompetisi  “Nursing Speech Contest” dalam gelaran Syncos  yang diselenggarakan Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta.

Pidato  dalam bahasa Inggris yang dipresentasikan  Lidya  dalam kompetisi tersebut berdurasi kurang lebih 10 menit.  Narasi  dan substansi  pidato Lidya  mengacu pada tema  yang sudah ditentukan yakni “Advancing the Excellence of  Paliatife Care: Improving Quality of Life and Spiritual Patient Support”, atau bisa diterjemahkan “Memajukan  Keunggulan Perawatan Paliatif : Meningkatkan Kualitas Hidup dan Dukungan Spiritual Pasien”.

Kecakapan Lidya mengutarakan narasi dan subtansi pidatonya  dalam bahasa Inggris,, menjadi poin bagi dirinya untuk tampil menjadi yang terbaik dalam kompetisi tersebut.  Ia dinobatkan  menjadi yang terbaik diantara puluhan  kompetitor lain yang turut berkompetisi mewakili berbagai universitas.

Dalam narasinya Lidya menekankan bahwa setiap perawat  tentu memiliki kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup pasien.  Sebagai bentuk tanggung jawab  moral perawat harus memberikan perhatian ekstra kepada pasien. Misalnya dengan mendengarkan keinginan pasien, perasaan pasien, gejala yang mengganggu, serta apa yang mungkin dapat mengurangi penderitaan pasien.  Karenanya  perawat perlu melakukan pendekatan totalitas yang  bisa menyentuh ranah psikologis dan spiritual pasien  dengan tujuan untuk mengurangi penderitaan dan penyembuhan pasien.

“Marilah kita menyediakan perhatian khusus terhadap perawatan paliatif. Dengan cara ini kita sebagai  perawat, tidak hanya menyediakan tetapi juga menawarkan perawatan sensitif terhadap budaya pada mereka yang membutuhkan,” jelas  Lidya dalam nukilan pidatonya.

Menurut wanita kelahiran Bali  ini, perawatan paliatif sangat dibutuhkan mengingat  masyarakat Indonesia  memiliki budaya yang disebut dengan “Ikhtiar”.   Karena itu perlu perhatian terhadap  aspek  psikologis dan spiritual  pasien  untuk memaksimalkan kualitas hidup pasien.  (bas)