Sanggar Tari Awahita Wirausaha Mahasiswi STIKES Bethesda YAKKUM Raih Hibah P2MW

03 Mei 2024  |  oleh Admin
Sanggar Tari Awahita Wirausaha Mahasiswi STIKES Bethesda YAKKUM Raih Hibah P2MW

Rancangan dan gagasan berwirausaha di bidang seni dan budaya, mengantarkan empat mahasiswi STIKES Bethesda YAKKUM  memperoleh  hibah Program Pembinaan  Mahasiswa Wirausaha (P2MW) tahun 2024 dari  Kemendikbud Ristek.  Keempat mahasisiwi tersebut adalah  Elysabeth Yudha, Widyaningsih,  Vincentia Cinthya Diah,  Anisa Putri Suci, dan  Patricia Hernina Ayu.

Keempatnya adalah sosok yang memiliki talenta di bidang seni tari. Dengan talenta  yang mereka miliki, muncullah gagasan kreative untuk membuka wirausaha  jasa  di bidang seni budaya.  Elisabet bersama ketiga kawannya merancang untuk mendirikan sanggar tari bagi kalangan anak-anak.  Sebagaimana  yang telah mereka susun dalam proposal P2MW, sanggar tari itu mereka namai “Sanggar Awahita”.   Ide kreative ini dinilai laik direalisasikan, sehingga pada akhir April 2024 lalu Kemendikbud Ristek  telah mengumumkan  program sanggar Awahita  menjadi salah satu program yang lolos pendanaan  P2MW.

Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, ada beberapa  alasan penting yang mendasari munculnya ide untuk mendirikan sanggar  Awahita.  Dituturkan Elisabet, era perkembangan teknologi saat ini  telah membawa  perubahan terhadap gaya hidup anak-anak.  Teknologi telah mengubah gaya hidup masyarakat terutama kalangan anak-anak. Teknologi gadget contohnya.  Kebanyakan anak-anak era sekarang lebih banyak menghabiskan  waktu bersama gadgetnya.   Gadget atau teknologi lain seperti televisi telah menuntun anak-anak pada sikap malas untuk melakukan gerak tubuh.  Mereka cenderung melakukan aktifitas fisik yang tidak aktif.  Padahal  aktifitas fisik aktif seperti bermain atau berolahraga, sangat diperlukan untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan tubuh pada usia anak-anak.   Karena itu Sanggar Awahita diharapkan bisa  menjadi wadah dan pemantik bagi anak-anak untuk melakukan aktifitas fisik aktif melalui seni tari.   Selain itu gagasan mendirikan sanggar Awahita juga bertujuan agar anak-anak  punya kesempatan  lebih banyak untuk berinteraksi dan bersosialiasi antara satu dengan yang lain. Bukan itu saja  sanggar Awahita juga berorientasi mendukung dan membimbing anak-anak bisa berprestasi di bidang seni tari.

“Ide ini muncul karena ada keinginan dari kami untuk mengajarkan tari kepada anak-anak sebagai bentuk pelestarian budaya. Tujuan penting lainnya adalah untuk membantu anak-anak meningkatkan  aktifitas  gerak tubuh mereka.  Gerak tubuh ini sangat penting untuk masa pertubumbuhan anak anak,”  tutur Elysabeth.

Tari yang akan dijaarkan di Sanggar Awahita meliputi tari tradisonal, tari  kreasi dan tari kesehatan.  Tari kesehatan, dikatakan Elysabeth,  gerakannya murni  merupakan karya mahasiwsi STIKES Bethesda  yang diperuntukkan bagi anak usia sekolah dasar.  Untuk mengikuti latihan tari di sanggar Awahita juga tidak membutuhkan biaya mahal.  Sanggar Awahita dirancang bisa dimanfaatkan anak-anak dari semua kalangan.  Untuk sekali kedatangan setiap anak hanya  cukup mengeluarkan biaya lima ribu rupiah.   (bas)