STIKES Bethesda Menginisiasi Terbentuknya Sekolah Stroke Untuk Masyarakat

07 Maret 2026  |  oleh Admin
STIKES Bethesda Menginisiasi Terbentuknya Sekolah Stroke Untuk Masyarakat

Stikesbethesda.ac.id— STIKES Bethesda YAKKUM Yogyakarta, menggandeng empat komunitas stroke melakukan terobosan baru dengan menginisiasi berdirinya “Sekolah Stroke”. Program sekolah stroke dibentuk untuk masyarakat penyintas stroke, keluarga dan care giver (pendamping). Program ini diluncurkan dan sekaligus mengawali kegiatan perdananya pada Sabtu 7 Maret 2026 di ruang Jean Watson STIKES Bethesda.

Program sekolah stroke untuk masyarakat merupakan sesuatu yang baru di lingkungan kampus sekolah tinggi. Program tersebut didirikan dengan maksud untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang penanganan pasca stroke. Tujuan penting dari program ini adalah meningkatkan kemandirian dan kualitas hidup penyintas stroke. 

Sekolah stroke yang digagas STIKES Bethesda ternyata mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat khususnya penyintas stroke. Respon positif masyarakat dibuktikan banyaknya peserta yang hadir pada pertemuan perdana. Peserta terdiri dari perwakilan komunitas penyintas stroke di Yogyakarta. Diantaranya dari komunitas Rabu Ceria Bethesda, Happy Embung Tambakboyo, Stroker Bahagia, dan PPSI. Selain wakil dari komunitas, ada juga peserta yang datang selaku perorangan.

Sekolah stroke memberikan edukasi melalui beberapa metode. Metode tersebut meliputi diskusi interaktif atau diskusi dua arah mengenai penanganan stroke, evaluasi klinis dan fungsional meliputi pemantauan kondisi fisik secara berkala, terapi aktifitas kelompok atau (TAK) yakni pemulihan melalui kegiatan bersama. Metode lainnya adalah pendampingan kepada care giver yaitu membekali keterampilan kepada pendamping pasien. yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi penyintas stroke.

Pada pertemuan perdana selain menerangkan manfaat sekolah stroke bagi peserta, juga dilakukan edukasi terkait penanganan pasca stroke. Diantaranya tentang bagaimana melakukan aktifitas tubuh yang benar untuk merangsang pemulihan fungsi saraf. Aktifitas yang dijelaskan mulai dari hal yang ringan seperti berdiri, berjalan, makan, duduk, mengenakan baju hingga aktifitas yang lebih sulit seperti saat menaiki kendaraan.

Ketua STIKES Bethesda Nurlia Ikaningtyas, Ph. D, menjelaskan senafas dengan tujuan yang ingin dicapai, program sekolah stroke dibentuk dengan mengangkat tema WIRA ( Wujudkan Impian Raih Asa). Menurutnya, program sekolah stroke merupakan salah satu bentuk responsibility STIKES Bethesda untuk berkontribusi meningkatkan kualitas hidup penyintas stroke. Program sekolah stroke diharapkan mampu membangun asa penyintas stroke dalam menjalani kehidupannya. Didalam programnya, sekolah stroke melaksanakan sebuah pendekatan edukatif-rehabilitatif yang komprehensif. 

“Kami mendesain kurikulum berbasis kolaborasi multidisipliner. Didalamnya melibatkan perawat, fisioterapis, tenaga medis hingga care giver. Tujuannya bukan hanya pada kesehatan fisik, tapi juga kemandirian ekonomi dan penguatan relasi sosial penyintas stroke,” jelas Nurlia Ikaningtyas.

Terwujudnya program sekolah stroke untuk masyarakat, turut diapresiasi oleh Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) DIY. Ketua Yastroki DIY, Akhmad Risaf Iskandar mengatakan inisiatif ini merupakan sesuatu yang baru di Indonesia dan selaras dengan slogan Yastroki. “Ini merupakan wujud nyata dari slogan Yastroki, yakni perang semesta melawan stroke. Pendampingan total terhadap penyintas dan keluarga, adalah kunci utama pemulihan,” ujarnya. (bas).